Sekolah Jurnalisme Official Website | Members Area : Register | Sign in

Minggu, 16 Mei 2010

Jurnalisme Franchise

1


SAAT sedang menemani seorang teman menikmati menu makan siang di sebuai gerai di Kota Bandar Lampung, secara mendadak saya berpikir keras tentang gerai itu. Ia hanya menawarkan satu menu: ayam goreng. Saya tak begitu suka menu ini dan tak akan bicara soal ayam goreng. Tapi, untuk orang seperti saya, gerai itu menyajikan sajian khusus: cappuchino. Minuman ini pun membuat saya berpikir keras. Kesimpulan dari yang saya pikirkan cuma satu: franchise.

Sebagian besar makanan dan minuman moderen yang kita nikmati hari ini diproduksi oleh mesin kuliner kapitalis dunia. Walapun sesungguhnya yang diproduksi mesin itu cuma merek, brand, imagi, dan kebudayaan. Tanpa kita sadari, manakala kita menikmatinya, lidah orang Indoinesia (Batak, Lampung, Jawa, Ambon, Bali, Padang, Palembang, Sumbawa, dan lain sebagainya) berubah menjadi lidah manusia global.

Tidak ada lagi yang khas pada lidah orang Indonesia. Rasa cabai kemudian hambar, jauh lebih enak saus. Makan ayam goreng (meskipun bukan di gerai franchise) akan terasa lebih nikmat jika dicocol ke saus cabai atau saus tomat. Padahal saus itu tidak murni cabai atau tomat. Saya menjadi teringat sebuah adegan yang pernah saya saksikan di sebuah acara bertajuk Jambore Anak Indonesia. Ketika pemandu acara bertanya kepada seorang anak tentang dari mana asal telur ayam, si anak menjawab: “Dari supermarket.”

Anak itu jelas bodoh. Karena telur ayam dihasilkan oleh seekor ayam. Tapi, sesungguhnya, kitalah yang bodoh. Setiap saat kita mengajak anak-anak mencari telur ayam di supermarket. Kita tidak pernah memberi tahu bagaimana telur ayam bisa ada di supermarket, karena kita tidak menyukai proses. Kita adalah warga dari sebuah bangsa yang lebih menyukai hasil.

2

Pembukaan tulisan ini berkaitan erat dengan jurnalisme franchaise. Barangkali sudah pernah ada yang mengungkapkan terminologi ini.

Pada satu sisi, jurnalisme franchise adalah jurnalisme yang mengandalkan jaringan pemberitaan yang dibentuk oleh industri pers dalam rangka memasok kebutuhan berita untuk media-media yang ada dalam jaringan pemberitaannya. Pada sisi lain, jurnalisme franchise bisa dipahami sebagai industri media yang didirikan seorang pengusaha setelah mengantongi brand sebuah perusahaan penerbitan pers.

Seperti cappuchino, brand perusahaan pers itu kemudian menghasilkan banyak industri media dengan nama yang sama di berbagai daerah (negara).

Di Indonesia, di era 2000-an, kita mengenal pengusaha Indonesia yang membeli brand majalah-majalah terbitan luar negeri. Kehadiran majalah-majalah dengan brand internasional itu “mematikan” majalah senafas yang ada di negeri ini. Sebut saja majalah Play Boy, Gogirls, Design, Elle, Cosmopolitan, Vague, PC Plus, Home, Cosmo Girl, Rolling Stone, dan lain sebagainya.

Majalah-majalah ini lebih membutuhkan penerjemah daripada seorang wartawan. Isi majalah-majalah itu menerjemahkan semua isi dari bahasa asli majalah tersebut. Memang, sebagian ada penambahan dengan konten khas Indonesia. Tapi, tentu, dengan jiwa dan subtansi yang khas majalah tersebut.

Sulit membayangkan jika fenomena seperti ini berkembang juga di daerah. Para pemilik modal membeli brand industri penerbitan dunia, lalu menerbitkan edisi berbahasa Indonesia dengan konten yang tak Indonesia. Bukan mustahil suatu saat akan terjadi.

Bukankah sudah ada tanda-tanda ke arah itu ketika industri media di daerah (Lampung) dihidupkan oleh semangat branding media nasional. Kehadiran jaringan-jaringan pemberitaan seperti MNC, JPNN, Persda Kompas, dan MI Grup. Dampak yang paling nyata, konten pemberitaan lokal semakin berkurang. Informasi yang disajikan industri pers itu sebagian besar konten nasional, sehingga kebutuhan informasi publik menjadi tak tercukupi.

Publik di daerah dipersiapkan industri pers kita sebagai pengunyah informasi nasional, sehingga abai terhadap kondisi di lingkungannya sendiri. Publik di daerah menjadi lebih paham persoalan-persoalan nasional, dan agak buta terhadap persoalan-persoalan di daerahnya. Sebagai contoh, ketika DPP Partai Golkar bermain politik di tingkat nasional, publik tidak paham apakah DPD Partai Golkar ikut bermain atau sudah inklud dengan DPP Partai Golkar.

Baca


Sabtu, 15 Mei 2010

Menulis, Bukan Bakat

1

SAAT memberi pelatihan tentang menulis kepada para pengajar, seorang peserta mengajukan pertanyaan yang panjang. Setelah saya simak, saya berkesimpulan pertanyaan itu bermakna seperti ini:

Saya ingin menjadi penulis, tapi saya tidak punya bakat. Apakah saya bisa menjadi penulis?


Saya jawab dulu tentang bakat. Dalam kamus Bahasa Indonesia, bakat itu bisa diartikan “keterampilan bawaan sejak lahir”. Kalau menulis dikaitkan dengan bakat, kita bisa mengatakan sangat mustahil ada orang yang punya keterampilan menulis begitu dilahirkan.

Jadi, kita kesamping dulu soal bakat menulis itu.

Menulis itu hasil sebuah proses pembelajaran. Itu pun tak cukup, karena ia berkaitan dengan soal keterampilan. Untuk terampil, seseorang tidak cuma butuh belajar tetapi juga latihan.

Latihan, itulah intinya. Setiap kali Anda menulis, anggaplah sedang berlatih. Tentu, berlatihlah yang tekun. Tekun berarti Anda memahami setiap tahapan dari proses latihan.

Seperti pemain bola, Anda tidak cuma berusaha memahami bagaimana cara menendang atau menanduk bola. Anda juga akan memahami, kalau bola ditendang tepat di tengah dengan ujung sepatu, maka bola itu akan meluncur lurus dan deras. Anda pun akan memahami, kalau bola ditendang di bagian bawah, maka bola akan melambung ke atas. Anda pun akan paham, jika bola ditendang pada bagian sisi kiri dengan sepatu bagian sisi kanan, maka bola akan melambung dalam gerak melengkung (tendangan pisang).

Artinya, jika Anda tekun, Anda akan paham segala sesuatu secara rinci. Saat itulah, tanpa Anda sadari, sesungguhnya Anda sedang berproses menjadi seorang penulis.

2


Salah satu manfaat jika Anda tekun latihan. Saya bercerita tentang seorang sales. Jika Anda seorang sales, tentu Anda akan berusaha mengenali produk yang ingin Anda jual. Sebelum mengenali betul produk itu, tentu Anda tidak akan berani menawarkannya.

Cukupkah hanya itu? Tidak.

Anda masih perlu mengenali konsumen seperti apa yang membutuhkan produk tersebut. (Anda jangan mengabaikan bahwa jutaan manusia memiliki keinginan-keinginan yang beragam, karena hakikat manusia adalah menemukan kebahagiaannya). Apakah produk Anda dapat membahagiakan manusia? Manusia yang mana yang dapat berbahagia karena produk Anda?

Apakah semua sales akan seperti itu? Tidak. Memasarkan suatu produk adalah perkara yang tidak semua orang mampu melakukannya. Tapi, jika paham “cara”, “metoda”, atau “kiat” memasarkan produk, sangat pasti seorang sales akan sukses.

Oscar Schlinder, seorang entrepreneur yang tak sukses di Berlin, tetapi punya pengalaman matang dalam berbisnis. Di zaman Nazi, Schlinder berangkat ke Aukland, sebuah daerah Yahudi yang dijajah Nazi, dan di sana ada kamp pengungsi Yahudi. Di daerah perang itu, Schlinder menjadi sukses sebagai pebisnis meskipun modalnya tidak ada. “Saya tidak tahu bisnis, tetapi saya mampu presentasi,” kata Schlinder, tokoh utama dalam film Schlinder Lits karya sutradara penerima Oscar.

Apa pelajaran yang bisa diambil? Presentasi. Dengan presentasi, Schlinder mampu meyakinkan orang lain bahwa ia seorang pebisnis professional sehingga orang mau merogoh kocek untuk menanam saham.

Presentasi merupakan kegiatan menjelaskan, menguraikan, membeberkan, dan memengaruhi orang lain. Presentasi lebih pada persoalan oraliti. Karena Anda penulis, presentasi dalam bentuk tulisan. Anda punya gagasan tentang suatu hal, Anda presentasikan gagasan itu dalam bentuk tulisan. Jika gagasan Anda bagus dan cara Anda mempresentasikannya sangat menarik, maka tulisan Anda tidak akan ditolak siapa pun.

3

Intinya, bagaimana Anda bisa meyakinkan orang lain (pembaca) tentang hal yang Anda sampaikan dalam bentuk tulisan? Jika Anda bisa menjawab pertanyaan itu, berarti Anda seorang penulis yang baik.

Tulisan yang bagus adalah tulisan yang bisa dicerna, dipahami, dan dinikmati oleh pembaca. Penulis yang bagus adalah penulis yang mampu mempresentasikan ide, gagasan, dan tema ke dalam bentuk tulisan, sehingga pembaca tidak merasa kesulitan untuk memahami, menikmati, dan mendapatkan pengetahuan baru dari bacaan tersebut.

Lantas, “cara”, “kiat”, “teknik”, atau “metoda” apa yang bisa diaflikasikan dalam menghasilkan sebuah karya tulis yang bagus?

Cuma satu cara, Anda harus memahami bahwa Anda menulis dalam rangka berkomunikasi.

Ada satu perkara yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca., dan Anda harus yakin apa yang ingin Anda sampaikan akan mudah dicerna, dipahami, dinikmati, dan menjadi pengetahuan baru bagi pembaca.

Dengan begitu Anda punya dasar yang kokoh. Setelah itu, Anda bisa membuka literature tentang teknik menulis. Di Indonesia, ada banyak buku tentang “teknik menulis” yang bisa Anda baca. Dengan buku-buku itu Anda bisa mengasah, memperdalam, memperhalus, memperlembut, dan sebagainya, pengetahuan atau keterampilan yang Anda miliki.

4


MENULIS adalah keterampilan. Seseorang yang sudah terbiasa mengorganisir pemikiran, ide, dan gagasan, akan sanggup menyampaikannya dalam bentuk lisan. Tapi, belum tentu sanggup menuangkannya dalam bentuk tulisan? Seorang penceramah, biasanya, bukan orang yang pintar menulis. Seorang penulis, biasanya, bukan orang yang pintar berbicara.

Meskipun begitu, ada penulis yang pintar berbicara dan ada pembicara yang cerdfas menulis.

Sebaiknya orang seperti itu ada di anatara Anda. Pintar bicara, pintar juga menulis. Atau, sebaliknya, pintar menulis, pintar juga berbicara.

Elizabeth McMahan dan Susab Day dalam buku mereka The Write’s Rhetoric and Handbook membagi teknik menulis ke dalam 13 cara. Terlalu banyak teknik itu. Maka, kita kutif beberapa yang penting saja. (1)Menulis adalah cara berkomunikasi. (2)Gunakan bahasa yang baik dan benar ; (3)Diksi; (4)Komposisi; (5)Detail; dan (6)Revisi.

Namun, yang sangat penting dicamkan, tulisan untuk dibaca. Di sini ditekankan, segala bentuk tulisan adalah untuk dibaca.

Untuk itu, Anda perlu memperhatikan tulisan seperti apa yang akan dibaca orang dan siapa yang akan membacanya.

Mengutif F.L. Lucas dalam makalahnya, “On the Fascination of Style”, disebutkan tulisan yang efektif setidaknya terdiri dari: “Good humor, good sense, vitality, and imagination”.

Ketika orang membaca tulisan Anda, orang akan merasa terhibur, terimajinasi, dan vitalitas hidup makin tumbuh. Ada desire yang menyentuh hati.

Namun, sebelum menulis, Anda harus berpikir dan bertanya (1)Kenapa Anda menulis? (2)Untuk siapa Anda menulis? (3)Bagaimana Anda akan menulis?


5


Soal menulis dalam hal ini tidak cuma berkaitan dengan media massa. Menulis di sini adalah menulis dalam pengertian sangat luas.

Anda tidak bisa hidup tanpa keterampilan menulis. Bayangkanlah saat Anda harus membuat makalah sebagai tugas kuliah, bayangkan juga saat Anda harus menyusun hasil pemikiran dan gagasan ke dalam disertasi atau tesis. Anda tak akan pernah bisa melakukannya tanpa menulis. Anda tidak akan bisa menjadi apa pun yang Anda harapkan.

Pengalaman saya “membantu” menulis skripsi, disertasi, dan tesis beberapa kawan, sungguh suatu pengalaman yang sangat berguna. Saya prihatin terhadap mereka---yang oleh rekan-rekannya dipuji karena mampu mengenyam jenjang pendidikan sampai pascasarjana—ternyata kurang begitu memahami cara menulis.

Bisa Anda bayangkan akan seperti apa karya ilmiah mereka?
Baca


Jumat, 14 Mei 2010

Tak Ada Demokratisasi Pemberitaan

AWAL Mei 2010 di Universitas Lampung, di hadapan mahasiswa dari lingkungan BEM se-Indonesia, saya ditanya seorang peserta perihal “demokratisasi pemberitaan” media massa di negeri ini. Pertanyaan itu diajukan setelah saya menarasikan cara mendisain isu dan bagaimana pula media massa melakukannya.


Sebelum menjawab pertanyaan, saya tak banyak menjelaskan tentang mendisain isu itu. Saya cuma mengutif serbasedikit teori komunikasi yang diperkenal Harold D. Laswell (teori ini kemudian diformulasikan orang lain menjadi formula 5W + 1 H), teori diffusi dan innovasi yang diperkenalkan Marshall Mc Luhan dana Undrestanding Media, teori agenda setiing dari McCommb, dan analisis wacana yang acap dipakai dalam menganalisis wacana.

Saya menekankan pada soal agenda seting. Saya bilang bahwa media massa punya agenda sendiri dengan menerbitkan sebuah berita, lalu diupayakan menjadi agenda pembaca. Tapi, tidak semua pengelola media berhasil melakukannya. Bahkan, TVOne terjebak sendiri di dalamnya setelah membangun agenda TVOne dengan cara menciptakan sumber palsu.

Pengelola media terjebak dan terperosok oleh ulahnya sendiri (agenda media), bukan cuma terjadi di Indonesia.

Sebutlah Janet Cooke. Jurnalis yang berkarier di The Washington Post ini mengagetkan public Amerika Serikat pada 1981. Bukan cuma karena pada tahun itu ia menerima Pulitzer Prize, penghargaan yang diidamkan semua jurnalis, tetapi karena ia mengakui karya jurnalismenya berjudul “Jimmy’s World” yang dinobatkan sebagai penerima hadiah itu ternyata fiktif belaka.

Jimmy, tokoh yang diceritakan dalam feature sepanjang 18.000 karakter yang dipublikasikan di halaman depan The Washington Post pada 29 September 1980 (bersambung ke halaman dalam) itu, ternyata rekaan. Dengan sendirinya kisah hidup Jimmy yang mengharukan karena menjadi pemakai narkoba pada usia 8 tahun dan bercita-cita menjadi bandar narkoba yang sukses, juga rekaan.

Para jurnalis dunia kaget dan sangat terpukul dengan kejadian itu. Bagaimana mungkin The Washington Post terperdayai oleh sebuah cerita rekaan yang digarap dengan tingkat keseriusan luar biasa dari seorang penipu? Jika dilihat dari reputasi The Washington Post, mustahil hal seperti ini terjadi.

Para pengamat media pun menyikapi bahwa ini bukan cuma kesalahan Cooke, tetapi juga para pengambil keputusan di The Washington Post yang kurang control.

Bukan itu saja, panitia The Pulitzer Prize pun sangat terpukul. Penghargaan atas karya jurnalistik yang ternyata karya muslihat jurnalisme (deception in journalism) itu, meninggalkan coreng pada kredibilitas beberapa juri.

Periode itu ditandai sebagai periode terburuk dalam jurnalisme investigasi Amerika Serikat, sebuah situasi yang bertolak dari prestasi jurnalis Amerika Serikat dalam investigasi Watergate.

2

Kembali kepada pertanyaan mahasiswa tentang “demokrasi pemberitaan” media massa.

Dalam banyak hal, sejak reformasi bergulir, rakyat kita mengalami euforia demokrasi. Segala sesuatu harus demokratis. Jika tidak, apapun akan dilakukan untuk mewujudkannya. Dalam hal penyajian media massa, soal demokrasi pemberitaan itu menjadi subtansial. Jika tidak, masyarakat akan membuat vonis yang telak, yakni “menolak membaca media massa itu”.

Pertanyaan mahasiswa itu seperti ini. “Dalam berita Pilkada, kenapa tidak semua calon muncul. Yang muncul justru calon-calon yang mau memasang iklan.”

Tentu, jika dikaitkan dengan iklan, jawaban jelas: “pengelola media akan maju tak gentar membela yang bayar”. Siapa calon kepala daerah yang memasang iklan, sangat pasti frekuensinya untuk muncul dalam pemberitaan akan lebih tinggi. Selain karena pengelola media massa memfokuskan perhatian kepada calon pemasang iklan dengan menugaskan wartawan tertentu untuk memantau semua kegiatan kampanye politik, juga karena institusi media adalah institusi bisnis yang menjalankan bisnisnya dengan kesadaran penuh untuk menyervis klien.

Servis dalam bisnis media massa bentuknya berupa pemberitaan. Meskipun ini pikiran yang keliru, tetapi pemasang iklan akan merasa tersanjung. Maksudnya, tanpa memasang iklan semestinya pengelola media tetap memberitakan dengan porsi yang sama. Tapi, akibat para pemasang iklan tidak pernah berusaha memahami bisnis media massa, mereka pun menganggap pemberitaan sebagai servis.

Pemberitaan media bukan servis, tetapi menjadi subtansial dari kegiatan media. Jangan pernah memuji pemberitaan media dan merasa tersanjung hanya karena berita tentang Anda dibuat sedemikian bagus. Anda harus berpikir ulang, bahwa media massa sesungguhnya tidak sedang bicara apa adanya.

Media massa bukan hanya soal pemberitaan dan berita (informasi). Media massa berkaitan erat dengan komunikasi. Dan komunikasi bukan hanya informasi. Komunikasi adalah faktor yang sangat menentukan semua proses sosial dan komponen fundamental dari cara masyarakat di dalam oraganisasi sosial.



Jika media massa kita lihat sebagai persoalan komunikasi, sangatlah pasti bahwa media massa merupakan cermin masyarakatnya. Jadi, jika pengelola media massa tidak demokratis dalam pemberitaan, karena memang masyarakatnya menghendaki hal itu. Masyarakat ingin pengelola media hanya memberitakan tentang dirinya, meskipun untuk itu ia rela mengeluarkan sejumlah uang.

Sampai di sini, bisa kita tolak adagium bahwa media massa punya publik. Itu cuma bahasa para pengelola media untuk mendekatkan diri dengan masyarakat pembaca, meskipun isi pemberitaannya selalu menjauh dari realitas masyarakat pembacanya. Bagaimana mungkin media yang terbit di Lampung, misalnya, ternyata 80% pemberitaannya tentang hal-hal di lau Lampung? Dimana letak kepentingan publik dan penghargaan terhadap publik Lampung?

Jadi, media massa tidak akan bisa demokratis. Sebab itu, jangan bermimpi mengharapkan media massa akan membela masyarakat pembacanya. Masyarakat pembaca (yang juga membeli media massa) juga tidak akan dibela. Pengelola media massa hanya akan membela masyarakat yang mau membayar iklan.

3

Sebab itu, yang terpenting bukan mengharapkan media massa berikap demokratis. Tapi, bagaimana cara memanfaatkan media massa, membuat para reporter di lapangan tertarik dan berminat untuk memberitakan tanpa menyadari bahwa mereka sedang dimanfaatkan. “Kasih uang pasti diberitakan,” kata sebagian orang.

Tapi itu akan berdampak buruk.

Para reporter di lapangan, tidak semuanya menguber uang, baru mencari berita. Mereka yang profesional—yang jumlahnya sangat sedikit—lebih menempatkan mengejar berita sebagai pilihan utama. Meskipun di hadapan pemimpinya, mereka akan segera ditanya: “Ada iklannya nggak?”

Meskipun begitu, pertanyaan-pertanyaan yang beraroma uang seperti itu bisa dihindari dengan cara mengelola isu. Artinya, jika media memiliki agenda media, maka publik harus bekerja seperti media. Publik harus menciptakan agenda publik, lalu dikomunikasikan menjadi agenda media. Dengan begitu, media tidak punya alasan lagi untuk tidak memberitakannya.

Contoh kecil mungkin bisa belajar dari Partai Keadilan Sejahtera. Pada saat semua pengelola media massa kekurangan berita pada hari Minggu, partai ini justru acap menggelar kegiatan pada hari Minggu. Karena tidak ada bahan berita, mau tak mau pengelola media menjadikan kegiatan PKS sebagai berita.

Baca


Kamis, 13 Mei 2010

Dari Andal Sampai Handal

Lelaki tua itu handal berkelahi. Setelah menelikung tangan, ia menyocor lawannya ke tanah, lalu menghimpit kepalanya dengan lutut.



SEPINTAS wacana di atas tak keliru. Tapi coba perhatikan kata “handal” dan “himpit” atau penggunaan kata yang huruf awalnya diawali dari vocal “a”, “i”, “u”, “e”, dan “o”. Kata-kata berhuruf awal vocal acap dipergunakan dalam bahasa tulis maupun lisan, tetapi sering keliru penggunaannya.


Kekeliruan itu tidak cuma dilakukan masyarakat awam tata bahasa, semantik, dalam pergaulan sehari-hari, tetapi juga kalangan intelektual dalam makalah-makalah ilmiah mereka. Seolah ada konvensi baru, kata “andal” kemudian menjadi “handal”, kata “ubah” menjadi “rubah”, kata “usap” menjadi “husap”, kata “empas” menjadi “hempas”, kata “alang” menjadi “halang”, dan sebagainya.

Dalam sebuah lagu yang diciptakan Dewa dan dinyanyikan Once, kita menemukan kata “ubah” menjadi “rumah” dalam kalimat “tak akan mampu merubah perasaanku kepadamu”. Dalam sejumlah kalimat pada penulisan berita di media, acap kita temukan kata “andal” menjadi “handal”. Simak berita berjudul “E-goverment Belum Didukung SDM Handal” (diterbitkan di Antara News pada 8 Maret 2010):

“Bekasi (ANTARA News)- Pelaksanaan e-goverment di lingkup pemerintahan daerah belum sepenuhnya didukung oleh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal, sehingga tidak berjalan maksimal.”


Pemakaian kata “handal” betul-betul menjadi baku. Padahal, kata yang benar adalah “andal” tanpa huruf “h”. Namun, lantaran terbiasa memakai kata “handal”, kemudian menjadi konvensi. Orang pun merasa janggal ketika memakai kata “andal”. Sama halnya dengan kata “impit”, “antar”, “anjung”, “andai”, “anduk”, “embus”, “empas”, “usap”, dan lain sebagainya, kita selalu menemukan penambah huruf “h” pada awal setiap kata dasar yang diawali dengan huruf vocal “a”.

Para sarjana acap melakukan kekeliruan ini. Beberapa kali mengeditori naskah-naskah skripsi, disertasi, dan tesis, saya selalu mengubah jika menemukan pemakaian huruf-huruf seperti di atas. Tapi, para dosen pembimbing selalu menyalahkan dan menilai kata dengan penambahan huruf “h” sebagai benar.

Pengalaman serupa juga saya temukan saat menyunting sejumlah naskah penelitian yang dilakukan rekan-rekan dosen. Naskah-naskah yang dipersiapkan untuk diterbitkan jurnal-jurnal ilmiah di institusi pendidikan tinggi itu, dipenuhi oleh kata yang tak saya temukan dalam kamus umum. Kata-kata yang hanya muncul dalam bahasa lisan, yang disampaikan seseorang hanya untuk tujuan: “yang penting komunikasi terjalin”.

Memang, pada naskah-naskah hasil penelitian, sering ditemukan kode-kode bahasa yang asing (alians code). Tapi, kode-kode bahasa itu menjadi asing karena berkaitan dengan istilah-istilah ilmiah yang belum bisa ditemukan padanannya dalam Bahasa Indonesia. Saya bisa memaklumi kode-kode bahasa seperti itu, meskipun para peneliti tetap harus tertib berbahasa dengan mengupayakan mencari padanan yang tepat.

Namun, sulit bagi saya memaklumi kesalahan-kesalahan penggunaan kata seperti yang disinggung pada awal tulisan ini.

Kesalahan penggunaan kata dengan mengubah huruf, sesungguhnya tidak bisa diterima. Perbuatan itu bukan saja menyebabkan Bahasa Indonesia menjadi sangat buruk, tetapi juga menghilangkan akar Bahasa Indonesia sebagai bahasa Melayu.

Ketika mendengarkan percakapan antara Upin dan Ipin dalam film animasi buatan Malaysia, secara mendadak saya merasa ada banyak kosa kata dalam Bahasa Indonesia yang “dihilangkan”, “tidak dipakai”, atau “punah” secara sengaja. Kosa kata yang justru dipergunakan oleh Upin, Ipin, dan tokoh-tokoh lain dalam film animasi itu. Kosa kata yang membawa ingatan saya pada masyarakat pesisir Melayu di Belawan, Tanjung Balai, Kisaran, Medan, Batubara, dan lain sebagainya.

Kosa kata itu, salah satunya, kata “kali”. Kata ini tak cuma bermakna sebagai operasional matematika.
Baca


Sabtu, 01 Mei 2010

Workshop untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis


Sekolah Jurnalisme Lampung memiliki Program berupa memberi pelatihan jurnalistik dan media yang dikhususkan bagi berbagai kalangan.


Workshop Media Journalism for Corporate

Kita bersepakat, kemampuan menulis sangat penting bagi setiap karyawan dan professional.

Menulis surat, proposal, laporan, rencana kerja, buku panduan, artikel, press release, bulletin, makalah, dan publikasi lain merupakan sebagian dari kegiatan-kegiatan rutin perusahaan. Kegiatan yang tampak sepele ini justru memiliki dampak sangat besar terhadap proses program,
termasuk dalam mengambil keputusan.

Akan tetapi justru kemampuan ini pulalah yang paling jarang ditingkatkan. Stigma yang melekat kuat adalah “menulis itu sulit dan saya tidak bisa”.

Muncullah perilaku menunda, minta bantuan orang lain, kesal, atau terpaksa. Ujung-ujungnya aktivitas program jadi terganggu karena konsep belum selesai, laporan selalu terlambat, dan manajer terpaksa “membantu” pekerjaan sekretaris dalam merancang surat-surat.

Apalagi menulis untuk media instansi dan perusahaan. Persoalan klasik yang masih sering dihadapi adalah rendahnya kontribusi karyawan dalam menyumbangkan naskah serta betapa sangat rendahnya kualitas naskah yang tampil, baik dari segi jurnalisme maupun kaidah-kaidah berbahasa.

Kesulitan paling mendasar biasanya adalah menulis dan menyunting naskah. Padahal melatih kemampuan menulis sebetulnya tidaklah terlalu sulit. Pengalaman kami dalam memberikan bimbingan dan pelatihan kepada
berbagai kalangan menunjukkan bahwa ketrampilan ini bukan bawaan (bakat) melainkan betul-betul hasil dari sebuah proses pembelajaran.

Karena itu untuk lebih meningkatkan kemampuan menulis (secara umum) sekaligus menambah wawasan jurnalistik bagi para penulis, kontributor, penyunting dan pengelola media internal di lingkungan instansi/perusahaan, kami menggelar Program Workshop Media Journalism for Corporate.

Workshop berlangsung intensif selama 2 hari berupa pemberian materi , ditindaklanjuti dengan program pendampingan penulisan dan konsultasi naskah selama 2 bulan.

Tujuan Workshop

1. Peserta mampu mengatasi berbagai hambatan dalam menulis sehingga mampu menulis dan mampu menyunting dengan baik, demi kelancaran pekerjaan di kantor maupun dalam rangka menulis naskah untuk media internal instansi/perusahaan.

2. Peserta memiliki pengetahuan dasar-dasar jurnalistik, sehingga mampu
membedakan cara-cara penulisan berita, press release, artikel, feature, laporan maupun naskah wawancara. Pengetahuan ini diperlukan baik oleh penulis dan kontributor dari berbagai unit kerja yang ikut berpartisipasi dalam menulis di media internal, apalagi oleh para anggota tim-redaksi dan staf kehumasan.

Tahapan Program
Bagaimanapun meningkatkan keterampilan menulis tentu membutuhkan latihan. Oleh karena itu, program ini akan berlangsung dalam 2 tahap:

Tahap 1, Workshop Menulis dan Jurnalistik, berlangsung selama 2 hari
Materi yang disampaikan meliputi berbagai teknik menulis, cara mengatasi hambatan penulis, kriteria berbagai naskah jurnalistik (berita, artikel atau feature), bahasa jurnalistik, teknik menyunting naskah dan praktek penulisan/editing.

Tahap 2, Program pendampingan dan konsultasi naskah selama 2 bulan.
Setiap peserta dilayani secara personal, dalam menggagas dan menulis naskah, menata dan menyunting naskah, sehingga peserta betul-betul mampu menghasilkan naskah yang layak terbit dan dibaca banyak orang.

Materi Workshop

Sesi-1 : Teknik Menulis dan Menemukan Gagasan

a. Menggagas Ide (Clustering)
b. Memilih Sudut Pandang (Angle)
c. Mengatasi Hambatan Menulis (Free Printing)
d. Latihan Menggagas Ide dan Angle
e. Latihan Menulis/Meramu Naskah

Sesi-2 : Teknik Revisi & Editing

a. Mengemas Naskah (Revisioning)
b. Membaguskan Naskah (Copy Editing)
c. Fog Index (mengukur kemampuan berbahasa)
d. Latihan Memperbaiki Alur (jalan pikiran)
e. Latihan Menyunting (logika bahasa dan rasa bahasa)

Sesi-3 : Pengetahuan Jurnalistik

a. Berita & Press Release
b. Reportase, wawancara, dan liputan
c. Menulis Artikel & Feature
d. Bahasa Jurnalistik

Sesi-4 : Latihan & Konsultasi

a. Praktek Wawancara
b. Praktek Menulis Berita & Press Release
c. Praktek Menulis Artikel & Feature Pendek


Pasca-Workshop

Setelah workshop 2 hari selesai, dilanjutkan dengan program layanan selama 2 bulan dalam bentuk Bimbingan & Konsultasi Penulisan, yaitu :

1. Setiap peserta akan dibimbing/dilayani secara personal dengan menggunakan email sebagai sarana komunikasi dan lalu lintas naskah

2. Naskah yang dibuat peserta ditulis dengan format Microsoft Word, sehingga memudahkan editor dalam memberikan advis-advis perbaikan dan contoh editing.
(MS Word memiliki fasilitas “track changes” yang terlihat langsung dalam naskah tersebut) sehingga para peserta akan langsung menyerap proses learning by doing.

3. Naskah yang dijadikan media-pembelajaran bisa jadi masih naskah yang sama sampai beberapa kali perbaikan. Tujuannya agar setiap peserta mengalami prosesnya, menyadari tahapan-tahapan kemampuan yang dia lalui, sampai akhirnya kemampuan tersebut meng-internal ke dalam dirinya.

4. Advis-advis perbaikan, konsultasi naskah dan pembahasan contoh editing yang kami berikan akan disesuaikan dengan tahapan-tahapan kemampuan peserta.

Pemandu Materi

Dalam workshop ini kami tidak menggunakan banyak pembicara, sebab tujuannya sangat spesifik dan agar materi tersajikan secara sinambung dan terintegrasi.

Peserta akan kami berikan beberapa nama calon pemandu dan peserta boleh menentukan akan dipandu oleh siapa.

Baca